AKADEMIK & PEMBELAJARAN • 156 dibaca

Sirkular Pangan Desa: Integrasi Limbah Pertanian dan Hidroponik untuk Ketahanan Pangan di Barru

Sirkular Pangan Desa: Integrasi Limbah Pertanian dan Hidroponik untuk Ketahanan Pangan di Barru

BARRU – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat terus dikembangkan melalui Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Tahun Pelaksanaan 2026. Salah satu program yang berhasil meraih pendanaan adalah “Sirkular Pangan Desa: Pemberdayaan Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani melalui Integrasi Limbah Pertanian dan Hidroponik untuk Ketahanan Pangan di Desa Harapan, Kabupaten Barru.”

Program ini dirancang untuk mengembangkan potensi lokal yang ada di Desa Harapan melalui pemanfaatan limbah pertanian dan penerapan teknologi hidroponik. Gagasannya sederhana, yakni mengubah limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna sekaligus mendukung ketersediaan pangan masyarakat.

Tim pelaksana program terdiri atas Rahmat Ariandi, S.Hut., M.Hut. selaku ketua tim, bersama Muh. Ikmal Saleh, S.P., M.Si. dan Abdul Malik, S.H., M.H. sebagai anggota.

Ketua Tim, Rahmat Ariandi, S.Hut., M.Hut., menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan melalui lolosnya Program Aksara Peduli. Menurutnya, dukungan pendanaan yang diperoleh bukan sekadar capaian administratif, tetapi merupakan amanah untuk menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

“Program ini kami rancang secara partisipatif bersama Kelompok Tani Cinranae dan KWT Mekar Sari di Desa Harapan, Kabupaten Barru. Kami memanfaatkan potensi lokal, khususnya limbah jagung dan kopi, untuk diolah menjadi produk organik serta menerapkan teknologi hidroponik sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat,” ujarnya.

Membangun Sirkular Pangan dari Potensi Lokal

Konsep sirkular pangan menjadi salah satu pendekatan utama dalam program ini. Masyarakat didorong untuk melihat limbah pertanian bukan sekadar sebagai bahan yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan dan diolah kembali.

Limbah jagung dan kopi yang tersedia di lingkungan masyarakat diarahkan untuk diolah menjadi produk organik yang dapat mendukung kegiatan pertanian. Di sisi lain, teknologi hidroponik diperkenalkan sebagai alternatif budidaya yang dapat dilakukan dengan lebih efisien, termasuk pada lahan yang terbatas.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan sebuah siklus yang saling mendukung. Limbah pertanian dapat dimanfaatkan kembali, kegiatan budidaya dapat terus dikembangkan, sementara hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan membuka peluang ekonomi produktif.

Memberdayakan Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani

Program ini secara khusus melibatkan Kelompok Tani Cinranae dan KWT Mekar Sari sebagai mitra utama. Keterlibatan kelompok masyarakat menjadi bagian penting karena program tidak hanya berorientasi pada penerapan teknologi, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat.

Melalui kegiatan pendampingan, masyarakat akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan limbah pertanian, pembuatan produk organik, serta penerapan teknologi hidroponik. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Bagi kelompok wanita tani, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat peran perempuan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. Budidaya hidroponik dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah, sehingga masyarakat dapat menghasilkan sayuran untuk kebutuhan konsumsi sekaligus memiliki peluang untuk mengembangkannya menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Mahasiswa Belajar Bersama Masyarakat

Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, program ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga dilibatkan secara langsung dalam proses mengidentifikasi persoalan, menerapkan ilmu pengetahuan, membangun komunikasi, serta mendampingi masyarakat.

Rahmat Ariandi menjelaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya seluruh kegiatan yang telah direncanakan, tetapi juga dari perubahan kapasitas dan keberdayaan masyarakat setelah program berakhir.

“Sebagai ketua tim, saya berharap program ini menjadi ruang pembelajaran bersama, baik bagi masyarakat maupun mahasiswa. Mahasiswa belajar memahami persoalan nyata di lapangan, sementara masyarakat mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan secara mandiri,” jelasnya.

Karena itu, tim berkomitmen untuk menjaga proses pendampingan, memperkuat kelembagaan kelompok, serta memastikan teknologi yang diterapkan dapat digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat dalam jangka panjang.

Membangun Ketahanan Pangan dari Desa

Program Sirkular Pangan Desa diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat. Ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari skala besar. Dengan mengoptimalkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat desa dapat membangun sistem pangan yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar memperkenalkan teknologi, program ini membawa semangat untuk membangun pola pikir bahwa potensi lokal dapat menjadi solusi bagi persoalan lokal. Limbah pertanian dapat diolah menjadi sumber daya, lahan terbatas tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan, dan masyarakat dapat menjadi pelaku utama dalam membangun kemandirian desanya.

Melalui Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli 2026, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan inovasi yang tidak hanya berhenti pada kegiatan program, tetapi terus tumbuh dan memberikan manfaat setelah program selesai.

Dari Desa Harapan, Kabupaten Barru, gagasan tersebut diwujudkan melalui langkah sederhana namun bermakna: mengolah limbah, menanam pangan, memberdayakan masyarakat, dan membangun ketahanan pangan secara bersama-sama.

Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya melalui transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan menghadirkan solusi, membangun kemandirian dan mendorong perubahan yang berkelanjutan.


Program ini berkaitan dengan program SDGs, terutama SDG 1 Tanpa Kemiskinan, melalui upaya memberikan akses pendapatan melalui pemberdayaan kelompok tani. SDG 2 Tanpa Kelaparan, melalui upaya mewujudkan ketahanan pangan, gizi yang baik dan pertanian berkelanjutan. SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan ekonomi dengan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pekerjaan layak untuk masyarakat. SDG 12 Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab dengan memastikan pola konsumsi dan produksi yang efisien, mengurangi sampah dengan menggunakan sumber daya dengan bijak.

Sustainable Development Goals

SDG 1
SDG 1 Tanpa Kemiskinan
SDG 2
SDG 2 Tanpa Kelaparan
SDG 8
SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
SDG 12
SDG 12 Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab
Bagikan: Facebook Twitter WhatsApp