AKADEMIK & PEMBELAJARAN • 51 dibaca

SAMBELTA, Inovasi Mahasiswa KKP Unismuh Makassar Sulap Baje Sungai Jadi Produk Khas Desa Lompo Tengah

SAMBELTA, Inovasi Mahasiswa KKP Unismuh Makassar Sulap Baje Sungai Jadi Produk Khas Desa Lompo Tengah

BARRU — Apa yang selama ini hanya dipandang sebagai hasil alam untuk konsumsi sehari-hari, ternyata menyimpan peluang menjadi produk pangan bernilai ekonomi.

Hal itulah yang coba dibuktikan mahasiswa Kuliah Kerja Profesi (KKP) 06 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Melalui kreativitas dan pemanfaatan potensi lokal, mahasiswa KKP 06 mengolah baje atau kerang sungai yang masih dapat ditemukan di sejumlah aliran sungai di Desa Lompo Tengah menjadi produk sambal khas yang diberi nama SAMBELTA, akronim dari Sambel Baje’ Lompo Tengah.

Inovasi ini bukan sekadar menghadirkan olahan pangan baru. Di balik SAMBELTA terdapat upaya mahasiswa untuk melihat kembali potensi yang tumbuh di sekitar masyarakat dan mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus identitas lokal.

Dari Hasil Sungai Menjadi Identitas Desa

Baje selama ini telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu bahan pangan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Namun, mahasiswa KKP 06 melihat bahwa pemanfaatannya masih dapat dikembangkan lebih jauh.

Alih-alih membiarkan potensi tersebut hanya berhenti sebagai bahan konsumsi rumah tangga, mahasiswa mencoba menghadirkan bentuk olahan yang lebih inovatif dengan menjadikan baje sebagai bahan utama sambal.

Dari sinilah gagasan SAMBELTA lahir.

Nama tersebut sengaja membawa identitas Lompo Tengah, sehingga produk yang dikembangkan tidak hanya menawarkan cita rasa, tetapi juga membawa cerita mengenai sumber bahan dan daerah asalnya.

Dengan pendekatan tersebut, hasil alam yang sebelumnya sederhana mulai diarahkan menjadi produk yang memiliki karakter dan identitas tersendiri.

Baje Diolah, Cita Rasa Lokal Dihadirkan

Proses pembuatan SAMBELTA diawali dengan mengolah baje yang diperoleh dari sungai.

Daging kerang kemudian dipadukan dengan berbagai bahan sambal hingga menghasilkan olahan dengan cita rasa khas.

Proses pengolahan tersebut menjadi bagian penting dari inovasi mahasiswa KKP 06. Sebab, pengembangan potensi desa tidak hanya berbicara mengenai apa yang tersedia di alam, tetapi juga bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi lebih tinggi.

Mahasiswa kemudian mendorong agar olahan baje tersebut tidak berhenti sebagai produk percobaan, tetapi memiliki peluang untuk dikemas dan diperkenalkan sebagai produk pangan yang membawa identitas Desa Lompo Tengah.

Ketika Potensi Desa Bertemu Kreativitas Mahasiswa

Pengembangan SAMBELTA menunjukkan bahwa inovasi di desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, ide justru lahir dari sesuatu yang sudah lama berada di sekitar masyarakat.

Baje yang hidup di aliran sungai Desa Lompo Tengah menjadi contoh bagaimana sumber daya lokal dapat dilihat dari sudut pandang berbeda. Jika sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi sehari-hari, melalui kreativitas mahasiswa KKP 06, baje mulai diperkenalkan dalam bentuk produk olahan yang memiliki peluang pengembangan lebih luas.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengenalkan potensi pangan lokal Desa Lompo Tengah.

Keberadaan baje di sejumlah aliran sungai menjadi salah satu potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan menjadi produk dengan karakter khas daerah.

SAMBELTA dan Harapan Membuka Peluang Ekonomi

Melalui SAMBELTA, mahasiswa KKP 06 Unismuh Makassar berharap masyarakat dapat melihat baje bukan hanya sebagai hasil sungai yang dikonsumsi untuk kebutuhan keluarga, tetapi juga sebagai bahan pangan yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Jika dikembangkan secara berkelanjutan, produk berbasis potensi lokal seperti SAMBELTA dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan pangan Desa Lompo Tengah sekaligus membuka ruang bagi kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk khas desa.

Lebih dari sekadar sambal, SAMBELTA membawa sebuah pesan sederhana: potensi desa tidak selalu harus dicari jauh-jauh.

Kadang, ia berada di sungai yang setiap hari dilewati, di bahan pangan yang selama ini dianggap biasa, dan di tangan masyarakat yang kemudian berani mengolahnya menjadi sesuatu yang berbeda.

Melalui kreativitas mahasiswa KKP 06, baje Lompo Tengah mulai mendapatkan cerita baru—dari hasil sungai menjadi olahan pangan, dari konsumsi sehari-hari menuju produk bernilai tambah, dan dari potensi lokal menuju identitas desa.

Kegiatan ini berkaitan dengan Program SDGs, Khususnya SDG 1 Tanpa Kemiskinan yaitu melalui upaya membuka peluang usaha menghasilkan produk bernilai ekonomi, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan ekonomi melalui menghadirkan lapangan pekerjaan yang layak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, SDG 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui mendorong inovasi produk ditengah tengah masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal, SDG 12 Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab yaitu dengan pengelolaan sumber daya dengan bijak.



Sustainable Development Goals

SDG 1
SDG 1 Tanpa Kemiskinan
SDG 8
SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
SDG 9
SDG 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur
SDG 12
SDG 12 Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab
Bagikan: Facebook Twitter WhatsApp